Archive for February, 2008

MEDIA, TEMAN ATAU LAWAN

Sunday, February 10th, 2008

MEDIA, TEMAN ATAU LAWAN

Ketika kita berbicara media dan kaitannya dengan budaya Skinhead, tentunya yang kami maksud adalah media Mainstream seperti TV, Radio dan Surat Kabar, jadi bukan media dalam pengartian lain yang lebih luas seperti Band, Internet, Newsletter, Fanzine dan lainnya. Sangat banyak alasan kenapa kami menolak media Mainstream, tapi di tulisan ini kami akan mencoba menjelaskannya dari aspek sejarah budaya Skinhead itu sendiri dan kaitan serta implementasinya dengan budaya Skinhead yang kini terus berkembang di Tanah Air. Budaya Skinhead sudah eksis dan mendunia selama hampir 40 tahun lamanya dan selama itu budaya ini tidak pernah sekalipun akur dengan media. Tak diragukan lagi budaya ini adalah budaya yang paling menderita dan menjadi bulan-bulanan media. Media telah dengan sukses sekali membunuh karakter budaya Skinhead, mereka dengan kekuatannya telah berhasil menggambarkan Skinhead sebagai sekelompok manusia tak berotak pendukung Rasisme, Fasisme dan pelaku kekerasan yang hampir-hampir tidak mempunyai rasa perikemanusiaan. Telah banyak usaha yang dilakukan oleh orang-orang di dalam budaya Skinhead seperti George Marshall dengan buku-bukunya dan film World Of Skinheadnya untuk membenarkan apa yang salah dari sudut pandang media namun kami berani mengatakan di sini bahwa usaha mereka tidaklah terlalu berhasil. Itu semua terjadi karena media lebih kuat dari mereka, media punya kekuatan dan uang serta jaringan yang dapat membentuk opini publik dan mereka sangat berhasil membentuk opini publik tersebut.

Sudah menjadi sifat dan karakteristik media bahwa mereka hanya akan memberitakan hal-hal yang bersifat sensasional, bahkan jika suatu hal tidaklah sensasional maka mereka akan membuat dan merekayasanya sehingga hal tersebut menjadi sensasional dan punya daya jual. Hal tersebut sebenarnya sangatlah wajar karena pada dasarnya media adalah pedagang informasi yang tentu saja hanya akan menjual barang atau info yang laku di pasaran; jadi jangan pernah percaya dengan pemberitaan berimbang, yang ada hanyalah perdagangan dengan segala intrik-intriknya. Media tidak akan pernah paham atau bahkan setidaknya berusaha paham tentang budaya Skinhead, mereka selalu salah dalam memilih nara sumber dan seandainya mereka benar dalam memilih nara sumber sekalipun mereka pasti tidak berhasil dengan baik mengolahnya, yang mereka buat selalu tentang oplah ataupun ratingnya.

Hanya 3 hal yang menarik dari kebudayaan Skinhead bagi media karena 3 hal ini lah yang mereka pandang punya nilai ekonomi. Ke 3 hal tersebut adalah Musik, Fashion dan Violence/ tindak kekerasan. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh Skinhead tidaklah eksis di Indonesia, kalaupun ada sifatnya sangatlah sporadis, tidaklah masif seperti di Eropa dan di Amerika. Sedangkan Musik dan Fashion sangatlah eksis di Tanah Air. Kedua hal inilah yang akan mereka ekspos habis-habisan karena di Indonesia Skinhead dengan segala musik dan fashionnya adalah hal baru dan setiap hal baru di negara ini pastilah akan menjadi trendy. Lalu apa sih jeleknya jika Skinhead menjadi Trendy? Tentu jelek sekali !! Karena budaya ini akan menjadi sangat murahan, akan terjadi instanisasi besar-besaran karena siapapun yang bisa membeli fashion Skinhead dengan gampangnya mengklaim diri sebagai Skinhead tanpa harus mempelajari sejarah dan esensi budaya ini sesungguhnya dan pada akhirnya budaya yang kita pelajari dan jalani mati-matian ini akan benar-benar kehilangan Esensinya, layaknya yang terjadi pada beberapa “budaya import” lain yang masuk kesini. Singkatnya kita tak mau Skinehad menjadi the Trend After Emo atau Reggaenya Bob Marley.

Hampir 2 tahun belakangan ketertsrikan media dan “orang-orang awam” terhadap budaya Skinhead dan budaya lain yang terkait hubungannya dengan budaya ini terus meningkat. Mulai dari di terbitkannya terjemahan dari Skinhead Nationnya George Marshall dalam bentuk buku “Kaum Skinhead” yang sanagt NGACO…, pemutaran dan pembahasan film Quadrophenia di UI, sampai dengan merebaknya budaya Scooter dengan segasla embel-embelnya akhir-akhir ini. Bahkan lagu Cock Sparrer pun di putar sebagai backsound acara gosip !!! Edankan ?? Karena itulah kenapa kami mengambil sikap Anti dan Menolak media mainstream dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun kami tidak akan berkolaborasi dengan mereka !! Media tidak diragukan lagi karena kami sudah anggap sebagai Musuh Terbesar kami, begitu pula dengan antek-anteknya. Kami tidak percaya dengan pandangan bahwa kita bisa bekerja sama dengan memanfaatkan media, sedikitpun kami tidak percaya akan hal itu !!! Dan bagi siapapun yang percaya akan hal itu bukalah literatur-literatur tentang budaya Skinhead…, pelajarilah…, karena kalian perlu segera di sadarkan !! Lalu bagi siapapun Skinhead yang tidak mau ikut campur dalam masalah ini, waktulah yang akan menjawab dan mematahkan sikap kalian…, suatu hari kalian akan sadar dan tahu siapa yang benar…!!! Dan hari itu mungkina adalah hari dimana kalian menonton tayangan berjudul “GENERASI SKINHEAD” di RCTI..!!! Sayangnya ketika kalian sadar, sepertinya semua itu telah terlambat karena segera setelah itu budaya yang dengan bangganya kalian sebut sebagai Jalan Hidup, sudah kehilangan Esensinya dan semakin menjadi ejekan oleh budaya lainnya di scene. Jadi tentukan sikap sekarang apakah media itu Teman atau Musuh Kalian…!!!

GET THE MAINSTREAM MEDIA OUT OF OUR CULTURE

Saturday, February 9th, 2008

Ini adalah tulisan yang sangat menarik dan gw sadur ke dalam blog gw supaya kalian bisa membacanya dengan lebih baik…

Kenapa media mainstream harus kita lewatkan…ketika mereka mengendus berita yang sama dengan uang bagi mereka di dalam komunitas kita?

Di Inggris, era sebelum milenium, masa ketika masyarakat mulai menyadari skinhead sebagai sebuah kultur, media dengan tangkas mengangkat isu yang membentuk opini publik mengenai skinhead, dengan gencar mereka mempromosikan kebrutalan dan tindak kriminal yang berkenaan dengan skinhead. Media menggambarkan kaum skinhead sebagai orang-orang yang kasar dan suka melakukan kekerasan untuk sekedar bersenang-senang. Dan hal itulah yang diterima masyarakat sebagai sebagai signal penolakan terhadap keberadaan skinhead di tengah2 kultur mapan mereka. Dan di kemudian hari sebuah surat kabar The Guardian yang menayangkan acara komersial mereka di TV menampilkan seorang skinhead. Tayangan itu dimulai dengan seorang skinhead berlari dengan sangat cepat sepanjang jalan menuju arah kamera seolah-olah dia sedang dikejar. Dan tajuk untuk adegan itu adalah ” kejadian yang dilihat dari satu sudut pandang memberikan satu kesan…”lalu sudut kamera berubah ke adegan di mana skinhead itu sebenarnya sedang berlari ke arah seorang bisnisman yang ketakutan memegang erat tas kerjanya, seolah yakin bahwa laki2 botak itu akan menghampirinya, dan suara tajuknya ” lihat dari sudut pandang yang berbeda, akan memberikan kesan yang berbeda…” dan sudut kamera berubah lagi dan suara tajuknya berkata ” hanya ketika kamu mendapatkan keseluruhan gambarnya kamu akan mengerti apa yang sedang terjadi.” dan gambar yang muncul kemudian adalah skinhead itu sedang berlari untuk mendorong sang bisnisman dan menghindarkannya dari bongkaran batu yang sedang jatuh ke arah bisnisman itu tepat pada waktunya. Skinhead itu tidak sedang dikejar, dan dia tidak sedang ingin menjambret orang itu, tapi ia mengambil resiko untuk mencegah orang lain tertimpa kecelakaan. Itu sepotong kisah mengenai media mainstream, masalah kita dengan media adalah media mainstream tidak pernah menampilkan keseluruhan cerita dari suatu peristiwa faktual. Mereka mempunyai agenda sendiri mengenai berita yang layak dan tidak layak untuk ditampilkan. Mereka mempunya alat sendiri untuk menyeleksi item2 yang akan ditampilkan sesuai agenda mereka. Dan ketika agenda mereka sampai ke dalam kultur yang muncul dari masyarakat kelas menengah ke bawah seperti skinhead atau punk media main stream mempunyai kecenderungan untuk mengambil dari satu sudut pandang. Kebanyakan media mainstram menyorot skinhead dan punk, yang mereka tampilkan hanya sosok2 yang dekat dengan kekerasan dan kriminalitas di jalanan serta geng pemabuk, dan orang2 berpikiran sederhana dari kalangan kelas menengah ke bawah, itulah yang selalu mereka tampilkan, sedangkan ada juga pemberitaan yang menarik, udara publisitas bagi segelintir orang dalam komunitas skinhead yang ingin tampil ke depan untuk menunjukkan bahwa itulah skinhead yang dia atau mereka hidupi. Pemberitaan-pemberitaan macam itu bersifat berat sebelah, tidak menampilkan keseluruhan cerita, gambaran2 bias yang sama sekali tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Media2 mainstream punya ketertarikan besar mengenai kultur semacam skinhead dan punk, namun ketertarikan mereka hanyalah sebatas komersialitas. Skins dan Punks adalah sasaran yang mereka anggap patut untuk menjadi komoditi komersial…tak ada apa dibalik semua pemberitaan setengah2 mereka.

Dan kesalahan terbesar Media mainstream yang tidak bisa dimaafkan adalah mereka telah membentuk publisitas yang salah yang mengakibatkan pembentukan opini masyarakat yang sangat keliru mengenai skinehead. Para pemburu berita dari media2 mainstream sama sekali tidak mempunyai persepsi apapun mengenai skinhead karena memang mereka tidak pernah tau tentang skinhead yang sebenarnya.dan berita2 yang mereka dapat hanyalah gambaran2 separuh2 atau informasi2 yang keliru dan fakta-fakta yang tidak aktual serta pengambilan kesimpulan yang salah atas fakta yang tidak mereka lihat secara keseluruhan, orang2 yang meliput atau menulis mengenai kultur skinhead atau punk ini adalah orang2 yang sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka tulis. Bagaimanapun Skinhead bukanlah kultur yang bisa dikomersilkan dalam tampilan2 buruk maupun fancy di televisi, di radio, di surat kabar atau apapun fasilitas yang digunakan oleh media2 mainstram untuk mengeksploitasi berita. Mereka telah kehilangan kredibilitas mereka mengenai fakta yang benar dan menyeluruh mengenai segala sesuatu yang mereka sebut sebagai pemberitaan massa, terlalu banyak kepentingan yang bermain di belakang media mainstream yang sama sekali tidak diketahui oleh segelintir dari kaum skins yang terlena oleh udara publisitas yang mereka hirup. Setelah banyak perlakuan media yang sangat tidak adil dalam membentuk opini masyarakat ada juga segelintir dari kawan2 kita yang terlena oleh angin komersialitas yang dihembuskan dengan sangat kencang oleh janji2 media mainstream. Bagaimana mungkin kita bisa mempercayai media mainstream ketika mereka meliput berita mengenai apa yang yang terjadi di timur tengah dan afrika dan belahan dunia lain, bahkan kejadian2 di dalam negeri sedangkan mereka telah membentuk opini publik yang sama seakali salah mengenai skinhead atau punk yang ada di lingkungan mereka sendiri, opini publik yang salah di sini adalah bahwa anak2 skin itu pelaku kriminal atau tukang buat onar dan terdiri dari segerombolan pengangguran yang senang mabuk2an, kumpulan anak2 drop out yang berdandan rapi dan bersih hanya untuk nongkrong, dan yang lebih keliru lagi ketika media mulai merasa tertarik melihat cara anak2 skin berpakaian, bermusik dan bersikap, mereka mulai meliriknya sebagai komoditi fashion dan musik yang bisa dikomersilkan, mereka mendapat keuntungan atas pemberitaan seperti itu sedangkan kita harus melihat kenyataan sinistik masyarakat atau bahkan menangis pilu ketika melihat anak2 muda yang akan berpakaian seperti kita dan memainkan musik yang kita mainkan, menjadikannya konsumsi publik yang mendatangkan keuntungan pribadi, kita tak lebih dari korban yang dieksploitasi, kita tak butuh media macam itu untuk membuktikan eksistensi kita sebagai suatu kultur, kita adalah media bagi diri kita sendiri, kita adalah media bagi komunitas kita, bagi kultur kita, bagi saudara-saudara kita, kita bisa melakukan apa yang dilakukan media mainstram itu dengan cara yang benar dan kita tidak perlu pembelaan apapun terhadap masyuarakat atas opini yang dibentuk media mainstream. Kita melakukannya dengan cara kita, dengan sikap kita dan dengan segala apa yang kita bisa. Kita adalah sebuah counter culture. Kita harus memahami bahwa kejadian2 kekerasan atau kriminalitas yang mungkin melibatkan anak skinhead bukanlah representasi mengenai ’way of life’ komunitas skinhead secara keseluruhan, Perkara2 semacam itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan dengan korban siapa saja, ketika ada peluang kriminalitas. Hal-hal semacam ini juga terjadi dalam kelompok2 lain dalam masyrakat. Masyarakat juga harus mengerti bahwa skinhead juga bukan apa yang mereka lihat kita kenakan, bukan juga musik yang kita mainkan, tapi apa yang ada di balik pakaian dan musik itu, lagipula kita tidak pernah menjadikannya itu konsumsi publik karena itu bagian internal dari eksistensi kita sebagai sebuah kultur, dan hal2 semacam itu tidak bisa dikomersilkan untuk kepentingan dan keuntungan pihak2 tertentu. Kita harus menyadari bahwa kita memiliki nilai kita sendiri, baik dan buruknya, sama juga dengan kelompok2 lain dalam masyarakat, kita bukanlah kumpulan malaikat meskipun ada beberapa di antara kita yang ingin menjadi malaikat dengan konpensasi publisitas. Kita melihat diri dan komunitas kita sebagai orang yang tangguh, kita adalah kaum kelas pekerja, orang yang tau apa yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, tau apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan, tau apa yang kita pakai, dan tau apa yang kita jalani, tau musik yang kita mainkan, lagu yang kita nyanyikan, hanya orang yang jernih yang bisa menilai bahwa semua itu hanya bisa disimpulkan dengan satu kata ”PRIDE” Ingatkah pertama kali ketika kamu menjadi skinhead? Ketika kamu pertama kali memangkas habis rambutmu, memakai boot dan braces dan berjalan dengan bangga dan merasa kamu lebih tinggi sepuluh kali lipat? Sebuah perasaan yang magis, perasaan kamu menjadi seseorang. Tidak ada dua skinhead yang sama, namun kita berbagi perasaan memiliki dan menjadi bagian dari sesuatu yang sangat spesial. Hanya sedikit orang di luar komunitas yang bisa memahami hal semacam ini. Attitude Skinhead juga bukan sekedar mengenai memangkas bersih rambutmu, memakai boots dan braces, tapi juga mengenai keyakinan sebagai kelas pekerja dan juga apresiasi terhadap pakaian dan musik. Kamu harus benar-benar mengerti rootsnya sebelum kamu benar-benar mempercayai apa artinya menjadi seorang skinehead. Alasan mengenai mengapa media mainstream merupakan musuh terbesar bagi kultur kita adalah bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai persepsi yang menyeluruh dan benar mengenai skinhead dan tidak mempunyai kredibilitas untuk menyampaikan kebenaran secara total dan valid mengenai situasi yang sebenarnya. Orientasi dan agenda mereka yang tidak sesuai dengan attitude kita. Jadi tentukan sikapmu…apa yang kamu percayai itulah dirimu. Dan bersikaplah dewasa dan bijak terhadap media2 mainstream, jangan sampai terlena oleh publisitas yang palsu dan janji2 yang bias….Say Big No To Main Stream Media. -sepenggal refleksi dari buku Skinhead Nation mengenai Media by fLo-

TOLAK MEDIA MAINSTREAM..!!!

Friday, February 1st, 2008

gw sadur juga dr soulboy79 di myspace…

Banyak alasan mengapa kita yang selama ini berada dan berjalan dalam scene ini sepatutnya menolak media, selain pemberitaan-pemberitaan yang kerap menyimpang, informasi-informasi yang mereka dapatkan banyak yang berupa potongan-potongan informasi yang perlu ditelaah lagi validitasnya. Hal ini tentu saja merugikan pihak-pihak yang menjadi sumber pemberitaan, karna kerap kali memicu anggapan-anggapan yang salah dan mengkontroversikan keadaan hingga terjadilah kesalah pahaman dalam berbagai pihak. Sudah terlalu banyak contoh kasus yang terjadi selama ini. Contoh saja pemberitaan-pemberitaan mengenai budaya punks di Indonesia, selain menampilkan nara sumber yang tidak jelas dalam ke-existensian mereka, juga masalah-masalah opini yang mereka berikan kepada public. Hal ini sangatlah merugikan banyak punks itu sendiri di dalamnya, selain opini public yang salah telah terbentuk luas, juga adanya kesalah pahaman di seluruh komunitas punks di Indonesia.

Sebenarnya, dalam konteks komunitas skinheads sendiri di sini, kita telah memiliki step-step konsep alternative yang dapat kita gunakan dalam membendung invasi media mainstream ke dalam kultur kita. Kita memiliki zine-zine sendiri yang mungkin tidak terlihat aktif disini (dalm berbagai sudut pandang,maka dapat disimpulkan bahwa situasi tersebut dikarnakan kurangnya komunikasi yang menyebabkan kurangnya kemerataan informasi yang berkembang…atau masih banyak pribadi-pribadi yang enggan untuk maju dan mengerahkan pengetahuan dan pandangan mereka dalam bentuk tulisan ataupun hal yang lain) lalu kita telah memiliki banyak record-record yang berkembang disini, yang menimbulkan ratusan jaringan-jaringan kolektif dan distribusi dan lain-lain hal-hal kecil yang ternyata sangat ampuh dalam membendung invasi media mainstream di kultur kita ini. Lalu kenapa kita harus berkorporasi dengan mereka-mereka yang jelas-jelas hanya akan mengeruk keuntungan dari kita dengan meningkatnya exemplar-exemplar mereka dengan pemberitaan menarik tentang skinheads? Kenapa kita harus berkorporasi untuk mereka yang telah merusak dan me-melintirkan banyak pakem-pakem skinheads disini? Dengan pembentukan opini public dan propaganda yang salah tentang skinheads di Indonesia? Kenapa kita harus berkorporasi kalau sebenarnya kita telah memiliki segalanya? Atau hanya kemalasan kita saja yang menjadi penyebabnya?

Sebenarnya, Selama ini skinheads di Indonesia telah ter-cover dengan baik dari mata media. Mungkin karna pemahaman masyarakat yang masih awam dengan budaya skinheads itu sendiri ataupun karna secara kuantitas sekalipun kita masih mendapat peringkat di bawah komunitas punks yang telah jauh meng-global di Indonesia bahkan seluruh dunia. Hal itu merupakan satu keuntungan yang amat besar untuk komunitas kita sendiri, selain kita “aman” dari pemberitaan-pemberitaan media mainstream yang salah, kita juga ter-minimalisasikan untuk menjadi suatu “pasar” mereka dalam mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun sejauh ini mulai banyak media yang mendekat, bahkan menawarkan “jasa-jasa” mereka dengan alih-alih peng-globalisasian kultur skinheads itu sendiri saat ini. Mereka tertarik dengan kultur yang menurut mereka banyak memiliki celah kosong antara idealisme skinheads dan kapitalisme..mereka tertarik akan adanya suatu lahan kosong yang mereka pikir belumlah terjamah sampai pada titik ini..mereka menawarkan banyaknya kemudahan dalam pemberitaan bahkan akses-akses menuju pemuasan rasa keingin tahuan para skinheads di sini dalam kulturnya sendiri yang sebenarnya hanyalah suatu tipuan kotor mereka untuk dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya disini. Pemberitaan-pemberitaan dari media-media itu sendiri amat sangat menarik minat para pemodal-pemodal di luar kultur skinheads itu sendiri. Bisakah kalian bayangkan betapa cepat imbas dari hal-hal tersebut yang telah saya coba uraikan disini??? Sebagai contoh kasus :

1. Fashion : dalam beberapa tahun lalu kita akan jarang sekali mendapatkan fashion-fashion atau product-product “ala” skinheads disini, para pemilik toko-toko baju akan sangat heran jika kita berkujung kesana dan bertanya tentang “Fred perry ataupun Lonsdale” tapi saat ini, banyak tempat yang telah menjual product-product tersebut…hal ini berdampak luas sekali, jauh di luar banyangan kita. Matinya distro-distro kecil yang dikelola para skinheads itu sendiri karna kalah dalam persaingan. Padahal sebenarnya distribusi-distribusi kecil seperti merekalah yang sangat berhak untuk berputar dalam pergulatan fashion di skinheads itu sendiri…karna merekapun skinheads. dan yang terpenting adalah, hilangnya essensi dari rasa pride dalam fashion itu sendiri…saat ini kita tidak lagi dapat terlalu “pride memakai product-product tersebut karna segalanya telah massive beredar disini. Lalu tentang propaganda-propaganda dalam fashion yang salah besar seperti yang telah terjadi belakangan ini…fashion para mods yang telah salah dan salah dalam setiap pengartian dan pengaplikasiannya disini…Contoh : saat ini telah terjadi dogmatisasi komplek dalam logo mod situ sendiri. Setiap pengendara scooter wajib mangenakan logo sialan berwarna biru, putih dan merah di scooter mereka. Ingat satu hal, setiap mods wajib berscooter, tetapi setiap pengendara scooters bukanlah mods! …hal ini tentu saja sangat lah mengesalkan banyak pihak, meskipun saat ini mungkin mods sudah padam sejarahnya, tetapi dalam grass roots yang telah tersuratkan bahwa skinheads itu berasal dari mods pun menjadi marah. Ketidak terimaan mereka dalam pemberlakuan dan kesalah artian terhadap mods pun makin menjadi-jadi karna saat ini kita telah kehilangan essensi dari mods tersebut. sekarang2 ini bahkan bukan hanya Mods yang mendisplay logo-logo ataupun merchandise lainnya. Kaum awam pun melakukannya! Kenapa saya menolak? kenapa saya merasa kesal? Dikarnakan mereka (kaum awam) tidaklah kita ketahui attitude nya, dan siapa yang menjamin bahwa kelak nanti way of life mereka tidak akan merugikan Mods-Mods itu sendiri??? . Memang tidak ada aturan yang mengharuskan bahwa seseorang itu harus mempelajari dahulu kultur-kulturnya masing-masing sebelum mereka mengadopsi fashion ataupun product-product tersebut, tetapi akan sangat cermat dan manusia sekali jika kita tahu apa yang kita lakukan…jika kita tahu apa yang akan kita makan dan bukan menelan mentah-mentah yang hanya akan menyebabkan kita muntah-muntah!

-BERSAMBUNG-
Selanjutnya :

2. Regenerasi dan Existensi :
3. Idealisme dan Pandangan politik :

-PENTUL